Yurisprudensi Hukum Mafqud Sebagai Alasan Gugatan Cerai Melalui Putusan Pengadilan (Putusan Nomor 0027/Pdt.G/2016/PA.Srog)
DOI:
https://doi.org/10.31004/innovative.v5i4.20046Keywords:
Mafqud, Perceraian, Yurisprudensi, Hukum Islam, Kompilasi Hukum IslamAbstract
Fenomena suami mafqud atau suami yang hilang tanpa kabar dalam jangka waktu lama seringkali menimbulkan permasalahan hukum dalam rumah tangga, khususnya bagi istri yang ditinggalkan tanpa nafkah dan kepastian status hukum. Penelitian ini bertujuan menganalisis yurisprudensi terkait mafqud sebagai dasar gugatan cerai melalui putusan Pengadilan Agama Sorong Nomor 0027/Pdt.G/2016/PA.Srog. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis-normatif dengan studi kepustakaan dan analisis putusan. Hasil kajian menunjukkan bahwa mafqud dapat dijadikan alasan cerai sah secara hukum positif Indonesia melalui tafsir Pasal 19 huruf b PP No. 9 Tahun 1975 dan Pasal 116 huruf b KHI. Putusan tersebut dinilai telah memenuhi unsur keadilan, kepastian, dan kemanfaatan hukum dengan menjatuhkan Talak Satu Ba’in Sughra. Namun, masih diperlukan penyempurnaan terhadap aspek perlindungan anak dan pengaturan resmi status mafqud dalam hukum nasional.
References
[1] Afrilian, A. (2023). Landasan hukum dan pertimbangan hakim terhadap status istri dalam perkara suami mafqud melalui putusan nomor 0279Pdt.G2009PA.PAS. Al Maqashidi: Jurnal Hukum Islam Nusantara, 6(2), 84–103. https://doi.org/10.32665/almaqashidi.v6i2.2457
[2] Al-Kasynawi, A. B. bin Ḥ. (n.d.). Aṣa Al-Madarik. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah.
[3] Al-Syairazi, I. (n.d.). Al-Muhażāb fī Fikih al-Imam al-Syāfi’ī. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah.
[4] Aulia, T. R. N. (2023). Kompilasi Hukum Islam (KHI) (11th ed.). CV. Nuansa Aulia.
[5] BIP, T. R. (2019). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (2nd ed.). Bhuana Ilmu Populer.
[6] Dahlan, A. A. (1996). Ensiklopedi Hukum Islam. PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
[7] Departemen Agama Republik Indonesia. (2005). Alquran dan Terjemahan. Diponegoro.
[8] Dimyati, Y. (2024). Relevansi pemikiran Imam Syafi’i tentang mafqud terhadap perceraian ghaib: Studi kasus di Pengadilan Agama Jombang. Al-Mawaddah: Jurnal Studi Islam dan Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyyah), 1(1), 1–11. https://doi.org/10.61181/al-mawaddah.v1i1.398
[9] Dusury, M. bin M. al-. (2007). Al-Mumti’ fi al-Qawaid al-Fiqhiyyah (1st ed.). Dar Zidni.
[10] Dzajuli, H. A. (2019). Kaidah-kaidah Fikih. Prenada Media.
[11] Hafifi, I. (2021). Status istri mafqud dalam pandangan Imam Syafi’i dan Ibnu Qudamah (Studi komparatif pendapat Imam Syafi’i dan Ibnu Qudamah). El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga, 4(2), 527. https://doi.org/10.22373/ujhk.v4i2.10918
[12] Hardani, S., Asmiwati, A., & Nofrita, D. (2019). Perkara mafqud di Pengadilan Agama di Provinsi Riau dalam perspektif keadilan gender. Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender, 17(2), 135. https://doi.org/10.24014/marwah.v17i2.4810
[13] Irawan, A. S., & Hariati, N. A. (2024). Implementasi kaidah al-yaqinu la yuzalu bi al-syak dalam fiqh munakahat. Fiqhul Hadits: Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam, 2(1), 15–26.
[14] Jauhari, W. (2018). Kaidah Fiqhiyah; Adh-Dhararu Yuzal. Rumah Fiqih Publishing.
[15] Jundulloh, A. M., & Ahsan, K. (2024). Cerai gugat (khulu’) karena suami hilang (mafqud) perspektif fikih Hambali (Analisis putusan Pengadilan Agama Sorong Nomor 57/Pdt.G/2018/PA.Srog). As-Salam: Jurnal Studi Hukum Islam & Pendidikan, 13(2), 258–279. https://doi.org/10.51226/assalam.v13i02.712
[16] Khomsatun, A. (2021). Hukum pernikahan istri yang disebabkan suami mafqud menurut perspektif hukum Islam. Jurnal Al Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam, 6(1), 30–51.
[17] Lestari, N. D. (2018). Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan pendapat Madzhab Syafi’i tentang batasan masa tunggu suami/istri mafqud. Jurnal Islam Nusantara, 2(1), 129–147.
[18] Mahkamah Agung. (n.d.). Putusan Nomor 0027/Pdt.G/2016/PA.Srog.
[19] Mahmud, S. (2000). Fikih Tujuh Madzhab, Ja’fari, Maliki, Syafi’i, Hambali, Hazami. Pustaka Setia.
[20] Mubarok, J. (2002). Modifikasi Hukum Islam: Studi tentang Kaul Qodim dan Kaul Jadid. Raja Grafindo.
[21] Muhibbin, M., & Wahid, A. (2011). Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia. Sinar Grafika.
[22] Nasution, L. (2001). Pembaruan Hukum Islam dalam Madzhab Syafi’i. Remaja Rosda Karya.
[23] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. (1975).
[24] Qudamah, A. M. M. ibn. (n.d.). Mughnī li Ibni Qudamah. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah.
[25] Rusyd, I. (1996). Bidāyah al-Mujtahid wa Nihāyah al-Muqtaṣid. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah.
[26] Rusyid, I. (1995). Bidayatul Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid (Vol. 3). Pustaka Amani.
[27] Susilo, E., Aziz, Y., & Miswanto. (2025). Analisis komparatif pandangan Imam Madzhab tentang status pernikahan suami mafqud dalam hukum Islam. Yustisi Jurnal Hukum dan Hukum Islam, 12(1), 277–291. https://doi.org/10.32832/yustisi.v12i1.19002
[28] Suyuti, J. al-Din al-. (2000). Al-Asybah wa an-Naza’ir fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh asy-Syafi’iyah. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
[29] Syarifuddun, A. (2005). Hukum Kewarisan dalam Islam (2nd ed.). Kencana.
[30] Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. (n.d.).
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Hasbiah Tunnaim Harahap, Sukiati Sukiati, Muhammad Yadi Harahap

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







