Tradisi Makan Bubur Pedas Pada Masyarakat Melayu Di Masjid Raya Al Osmani Medan Labuhan Kota Medan

Authors

  • Ihza Yudha Simbolon Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Achriah Achriah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Muhammad Faishal Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.31004/innovative.v5i1.17954

Keywords:

adat, bubur pedas, warga melayu

Abstract

Abstrak

Bubur pedas termasuk dalam makanan tradisional yang ada di Medan Labuhan. Makanan tradisional memiliki peran yang penting dalam bagian kehidupan masyarakat, baik dari segi gizi yang terkandung di dalam makanan tersebut maupun perannya dalam budaya masyarakat yang harus dilestarikan dan dijaga cita rasanya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang termasuk ke dalam penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif yang berisikan penggambaran serta pengamatan data dalam kurun waktu tertentu, sehingga penelitian ini akan menggambarkan dinamika bubur pedas sebagai warisan kuliner masyarakat Melayu Medan. Masjid Raya Al Osmani adalah masjid dari peninggalan Kesultanan Deli. Masjid ini berada di Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan Kota Medan merupakan daerah yang mayoritas penduduknya adalah Melayu. Bubur pedas dibuat dengan berbagai jenis bahan, diantarnya jenis rempah, dedaunan, kacang-kacangan, dan ikan. Bubur pedas juga bergizi dan menyehatkan tubuh, serta memiliki nilai-nilai dan makna yang tinggi yang terkandung di dalamnya. Bubur Pedas menjadi menu yang wajib ada pada bulan Puasa. Pada sumber-sumber lain terdahulu banyak membahas mengenai bubur pedas sebagai objek penelitian namun peneliti disini ingin lebih mendalami dan mengkaji lebih dalam terhadap makna dan nilai-nilai bubur pedas terhadap masyarakat terutama di Masjid Raya Al Osmani Medan Labuhan.

 

Kata Kunci: Adat, Bubur Pedas, Warga Melayu

Abstract

Spicy porridge is a traditional dish from Medan Labuhan. Traditional foods play an important role in the lives of the community, both in terms of the nutritional content and their cultural significance, which must be preserved and maintained in terms of taste. This research uses a historical research method, which falls under qualitative research. The study is descriptive-exploratory, containing descriptions and observations of data over a certain period. This study will illustrate the dynamics of spicy porridge as a culinary heritage of the Malay community in Medan. The Al Osmani Grand Mosque is a relic of the Deli Sultanate. Located in the Pekan Labuhan subdistrict of Medan Labuhan, Medan City, this area is predominantly inhabited by Malays. Spicy porridge is made with a variety of ingredients, including spices, leaves, legumes, and fish. Spicy porridge is nutritious, healthy, and contains high cultural values and meanings. It is a must-have dish during the fasting month of Ramadan. Previous sources have discussed spicy porridge as a research object; however, this study aims to explore and examine in greater depth the meaning and values of spicy porridge for the community, especially at the Al Osmani Grand Mosque in Medan Labuhan.

 

Keyword: Tradition, Spicy Porridge, Malay society



References

Abdullah, Muhammad. (2020). Pembaharuan Pemikiran Mahmud Yunus perihal Edukasi Islam serta Relevansinya semekanisme Edukasi Modern: Jurnal Edukasi kaidah Islam.

Ajat Sudrajat, D. (2016). Dinul Islam. Yogyakarta: UNY Press.

Almath, Muhammad Faiz. (1991). 1100 Hadits Terpilah, Sinar kaidah Muhammad. Jakarta: Gema insani Press.

Arisca, F. 2017. "Adat Bubur Pedas pada masyarakat melayu di Hamparan Perak: Kajian Folklor". Skripsi. FIB, Bahasa serta Sastra Melayu, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Badrudin. (t.thn.). diantara Islam serta Kebudayaan.

Bastomi, Suwaji.1988. Apresiasi Kesenian Adatonal. Semarang: IKIP Semarang Press.

Bayuningsih, W. (2009).

C.A. Van Peursen. 1988 Strategi Kebudayaan, Yogyakarta : Kanisisus.

Devianty, R. (2019). Pengantar ilmu sosial. Medan: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Emalia, I. (2006). Historiografi Indonesia. Jakarta: UIN Jakarta Press.

Gazalba, Sidi. 1989. Masjid Pusat Ibadat serta Kebudayaan Islam. Jakarta: Indonesia

G.J. Renier, Metode serta Manfaat Ilmu hikayat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997)

Hartati, W. d. (2018). Metode riset Sejarah. Yogyakarta: Magnum Pustaka Umum.

https://kbbi.web.id/dinamika.html.

https://quran.kemenag.go.id/.

Juliadi, (2007). Masjid Agung Banten, Nafas hikayat serta Budaya.Yogyakarta: Ombak.

Khairuddin. (t.thn.). hipotesis serta Metode riset Antropologi Budaya.

Koentjaraningrat. (1982). hikayat hipotesis Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. (1996). Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.

Lah Husny, T.H.M Lintasan hikayat serta tradisi Penghuni Melayu Pesisir Sumatera Timur, Penerbit BP Husny, Medan, 1975

Marzali, A. (2010). Struktural-Fungsionalisme. Antropologi No.52.

Mustafa, H.A.(1999).Sejarah edukasi Islam di Indonesia,Bandung: CV pustaka setia.

Na’im, Akhsan serta Hendry Syaputra(2010) Kewarganegaraan Suku Bangsa, Agama, Bahasa 2010" (PDF). demografi.bps.go.id. Badan Pusat Statistik. Diakses tanggal 18 Oktober 2022 dengan https://web.archive.org/web/20170712140438/http://demografi.bps.go.id/phpfiletree

Nata,Abuddin.(2004).Sejarah Edukasi Islam.Jakarta: PT Grafindo.

Nawawi. 1991. Metode riset Kualitatif. Jakarta: Refika.

Pranowo, B. (1998). Islam faktual diantara adat serta relasi kuasa. Yogyakarta: Karya Nusa.

Perret, Daniel.(2010). Kolonialisme serta Etnisitas Batak serta Melayu di Sumatera Timur Laut. Jakarta:KPG

Rendra. (1983). Mempertimbangkan Adat. Jakarta: PT Gramedia.

Ruswanto, Wawan (2014) artian Perubahan serta Disorganisasi Sosial. Universitas Terbuka, Jakarta.

Sartika serta S. Wahidah. 2013. Analisa serta kebermaknaan materi bubur pedas selaku warisan kuliner Melayu Stabat serta Tanjung Balai. Jurnal Edukasi Teknologi serta Kejuruan. 14(2): 66-73.

Siregar, A. d. (1985). Kamus Antropologi. Jakarta: Akademik Pressindo.

Soekanto, Soejono. 1990. Sosiologi satu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo. Persada

Soekanto. (1993). Kamus Sosiologi . Jakarta: PT. Raja Gravindo Persada.

Sumalyo, Yulianto.(2006). ArsitekturMasjid serta Monumen hikayat Muslim. Gadjah Mada: UI Press.

Supartono. (1983). hikayat Kebudayaan Indonesia. Terbitan: Intan Pariwara.

Tasmuji, D. (2011). Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu tradisi Dasar. Jakarta: IAIN Sunan Ampel Press.

W.J.S. (1985). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka. www.medankota.bps.go.id

Zulaikha, L. (2011). Metologi Sejarah.

Zuhairini, dkk. (1995). hikayat edukasi Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Downloads

Published

2025-02-03

How to Cite

Simbolon, I. Y., Achriah, A., & Faishal, M. (2025). Tradisi Makan Bubur Pedas Pada Masyarakat Melayu Di Masjid Raya Al Osmani Medan Labuhan Kota Medan. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(1), 4282–4300. https://doi.org/10.31004/innovative.v5i1.17954

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.