Mengungkap Cancel Culture: Studi Fenomenologis tentang Kebangkitan dan Dampaknya di Era Digital
Keywords:
Cancel Culture, Fenomena, Social Media, Komunikasi, InternetAbstract
Perkembangan teknologi telah membawa banyak inovasi yang memudahkan interaksi antara individu dan kelompok dalam masyarakat. Salah satu bidang yang paling terpengaruh oleh perkembangan teknologi adalah teknologi informasi dan komunikasi. Menurut laporan dari We Are Social, pengguna internet secara global telah menghabiskan rata-rata 147 menit atau 2,45 jam per hari untuk mengakses media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu alat komunikasi yang paling populer saat ini. Banyak fenomena sosial yang muncul di media sosial, termasuk fenomena Cancel Culture yang marak terjadi belakangan ini. Cancel Culture mengacu pada pembatalan seseorang atau kelompok yang dianggap telah melakukan kesalahan atau perilaku yang dianggap tidak pantas oleh masyarakat. Ini dilakukan melalui kampanye online yang melibatkan pengguna media sosial yang memboikot produk atau individu tertentu. Fenomena ini biasanya terjadi di media sosial, seperti Twitter, atau melalui pengajuan petisi. Seorang public figure, seseorang yang memiliki pengaruh, bahkan sebuah brand bisa tiba-tiba dibatalkan, ditolak, atau bahkan dibully oleh publik karena pandangannya dianggap tidak lagi sesuai dengan harapan masyarakat di media sosial. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan studi kasus tentang fenomena yang dikenal dengan "Cancel Culture" secara umum dan mengambil beberapa artis dan brand sebagai contoh kasus yang terjadi di Media Sosial. Bertujuan untuk mengungkap fenomena "Cancel Culture" yang muncul dan berdampak di era digital, untuk mengetahui bagaimana fenomena Cancel Culture dapat terjadi di media sosial, untuk mengetahui alasan mengapa fenomena Cancel Culture masif terjadi di media sosial, dan untuk menggambarkan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan fenomena Cancel Culture terjadi. Dalam memperdalam pemahaman penelitian ini, peneliti akan menggunakan tradisi penelitian fenomenologis, yang berfokus pada pengalaman kesadaran pribadi. Selain itu, dengan menggunakan paradigma konstruktivis dan metode fenomenologis, peneliti dapat mengeksplorasi pemahaman dan analisis tentang bagaimana individu memandang dan bertindak di dunia mereka. Dalam konteks Ilmu Komunikasi, pendekatan ini penting untuk membantu memahami bagaimana komunikasi terjadi dalam interaksi sosial sehari-hari dan bagaimana individu membangun makna melalui interaksi tersebut. Peneliti akan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam metode ini, peneliti akan mengeksplorasi bagaimana individu dan kelompok tertentu memahami dan membingkai cancel culture di media sosial. Dengan demikian, para peneliti akan dapat memahami lebih dalam mengapa Cancel Culture telah menjadi fenomena yang signifikan akhir-akhir ini. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keterhubungan individu di media sosial, anonimitas, efek massa, konten kontroversial, penyebaran informasi salah, dan opini publik yang kuat adalah faktor-faktor kunci dalam fenomena Cancel Culture. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya dialog, respek, dan kesadaran akan dampak kata-kata di media sosial serta menyarankan penelitian lebih lanjut untuk memahami persepsi individu dalam fenomena ini.







