Kajian Dogmatis Atas Penerimaan Terhadap Warga Difabel Dalam Persekutuan Gereja
Abstract
Banyak indikator yang menunjukkan bahwa gereja tampaknya telah melalaikan tugas dan panggilannya sebagai gereja, tempat persekutuan bagi seluruh umat manusia. Realitas ini didukung oleh sikap gereja terhadap berbagai kelompok masyarakat. Salah satu kelompok masyarakat yang dimaksud adalah penyandang disabilitas. Ada dugaan seolah-olah gereja hanya tempat untuk orang normal dan sehat, dan tertutup bagi penyandang disabilitas. Gereja tidak menyediakan tempat bagi mereka yang mengalami kekurangan. Tidak jarang mereka mengalami berbagai bentuk diskriminasi bahkan stratifikasi sehingga pada akhirnya mereka memilih untuk tidak datang beribadah di gereja. Toh, orang-orang terdekatnya, seperti hanya orang tua atau keluarganya saja, sering kali mengabaikan dan menjauhkan mereka dari pertemuan-pertemuan ibadah. Lantas, apa yang harus dilakukan oleh gereja yang sering disebut sebagai 'garam' dan 'terang' dunia ini?







